Fraksinasi atau Fraksinase, Mana yang Benar Menurut KBBI?

KakaKiky – Kalau kamu lagi nulis laporan praktikum kimia, artikel tentang pengolahan minyak kelapa, atau bahkan skripsi tentang ekstrak tumbuhan obat, ada satu kata yang sering bikin ragu: fraksinasi atau fraksinase? Dua-duanya kedengaran ilmiah, dua-duanya sama-sama sering muncul di jurnal, tapi cuma satu yang tercatat resmi di KBBI. Jawaban singkatnya: fraksinasi adalah bentuk baku, sedangkan fraksinase bukan kata yang diakui dalam bahasa Indonesia baku. Tapi supaya kamu enggak cuma hafal jawabannya doang tanpa paham alasannya, yuk kita bedah sampai ke akar katanya.
Fraksinasi atau Fraksinase, Ini Jawaban Cepatnya
Menurut KBBI, fraksinasi adalah proses, cara, atau perbuatan menjadikan fraksi-fraksi, alias memisahkan sesuatu menjadi bagian-bagian kecil berdasarkan sifat atau karakteristik tertentu. Kata ini berasal dari “fraksi” (bagian kecil atau pecahan) yang mendapat akhiran “-asi”, pola pembentukan kata benda proses yang sangat umum dalam bahasa Indonesia.
Sementara itu, “fraksinase” enggak punya entri resmi di KBBI. Kata ini kemungkinan besar muncul karena kebiasaan orang menambahkan akhiran “-ase” pada istilah teknis, padahal akhiran itu sebenarnya punya fungsi berbeda sama sekali dalam bahasa Indonesia dan bahasa ilmiah pada umumnya.
Kenapa Orang Sering Bingung dengan Akhiran “-ase”
Akhiran “-ase” itu sebenarnya untuk nama enzim
Ini bagian yang jarang dijelaskan tuntas di artikel lain, padahal justru inilah sumber kebingungannya. Dalam bahasa ilmiah, akhiran “-ase” (dalam bahasa Indonesia jadi “-ase” juga, contoh: amilase, lipase, protease) digunakan khusus untuk menamai enzim. Enzim adalah protein yang mempercepat reaksi kimia dalam tubuh makhluk hidup. Jadi kalau kamu belajar biologi SMA atau kuliah biokimia, kamu pasti kenal istilah seperti:
- Amilase — enzim pemecah karbohidrat/pati
- Lipase — enzim pemecah lemak
- Protease — enzim pemecah protein
- Laktase — enzim pemecah laktosa
- Selulase — enzim pemecah selulosa
Nah, karena pola “-ase” ini begitu sering muncul di dunia sains, otak kita jadi otomatis “menempelkan” akhiran itu ke kata lain yang sebenarnya enggak nyambung sama sekali, termasuk ke kata “fraksi”. Padahal, proses memisahkan campuran menjadi fraksi-fraksi itu bukan enzim, jadi enggak ada alasan ilmiah untuk memakai akhiran “-ase” di situ.
Akhiran “-asi” untuk proses, bukan untuk zat
Sebaliknya, akhiran “-asi” dalam bahasa Indonesia (diserap dari bahasa Inggris “-ation” atau bahasa Belanda “-atie”) memang fungsinya menunjukkan proses, tindakan, atau hasil dari suatu tindakan. Bandingkan pola ini dengan kata-kata lain yang sudah kamu kenal sehari-hari:
| Kata Dasar | Bentuk Proses (Baku) | Makna |
|---|---|---|
| fraksi | fraksinasi | proses memisahkan menjadi bagian-bagian |
| distilasi | (sudah bentuk proses) | proses penyulingan |
| oksigen | oksidasi | proses bereaksi dengan oksigen |
| sistem | sistematisasi | proses menjadikan sistematis |
| standar | standardisasi | proses menyeragamkan standar |
| dokumen | dokumentasi | proses mendokumentasikan |
Lihat pola di atas? Semua kata yang menunjukkan “proses melakukan sesuatu” konsisten pakai akhiran “-asi”, bukan “-ase”. Insight ini penting banget buat kamu pegang, karena begitu kamu paham logikanya, kamu enggak perlu hafal satu-satu kata serapan sejenis — cukup ingat: proses = “-asi”, enzim = “-ase”.
Contoh Pemakaian “Fraksinasi” dalam Berbagai Bidang di Indonesia
Supaya kamu makin yakin dan enggak ragu lagi pas nulis, ini contoh pemakaian kata “fraksinasi” di berbagai konteks yang relevan dengan kehidupan dan industri di Indonesia.
Dalam industri minyak dan gas
- Pertamina menggunakan proses fraksinasi minyak bumi untuk memisahkan bensin, solar, dan kerosin di kilang Cilacap.
- Fraksinasi minyak mentah dilakukan berdasarkan perbedaan titik didih tiap komponen hidrokarbon.
- Menara fraksinasi di kilang Balikpapan beroperasi 24 jam untuk mengolah crude oil menjadi berbagai produk turunan.
Dalam industri pangan dan minyak kelapa sawit
- Pabrik pengolahan sawit di Riau menerapkan fraksinasi minyak sawit untuk memisahkan olein (cair) dan stearin (padat).
- Proses fraksinasi minyak kelapa menghasilkan VCO (virgin coconut oil) dengan kualitas lebih tinggi.
- Industri margarin di Indonesia mengandalkan teknik fraksinasi untuk mengatur tekstur produk akhir.
Dalam dunia kesehatan dan transfusi darah
- PMI (Palang Merah Indonesia) melakukan fraksinasi plasma darah untuk memisahkan komponen seperti albumin dan faktor pembekuan.
- Fraksinasi darah donor memungkinkan satu kantong darah dimanfaatkan untuk beberapa pasien dengan kebutuhan berbeda.
- Rumah sakit rujukan biasanya menerima produk hasil fraksinasi darah dari bank darah pusat, bukan darah utuh.
Dalam penelitian herbal dan obat tradisional
- Peneliti di LIPI (sekarang BRIN) melakukan fraksinasi ekstrak daun kelor untuk mengisolasi senyawa aktifnya.
- Fraksinasi bertingkat digunakan untuk memisahkan senyawa flavonoid dari ekstrak kunyit.
- Mahasiswa farmasi sering melakukan fraksinasi menggunakan pelarut dengan polaritas berbeda, mulai dari n-heksana sampai metanol.
Dalam laboratorium kimia dasar
- Praktikum kimia organik di semester tiga biasanya memperkenalkan teknik fraksinasi menggunakan corong pisah.
- Fraksinasi kromatografi kolom membantu memisahkan campuran senyawa berdasarkan kepolarannya.
- Dosen pembimbing meminta hasil fraksinasi dianalisis lebih lanjut dengan spektrofotometer UV-Vis.
Kapan Kesalahan “Fraksinase” Paling Sering Muncul
Di laporan ilmiah dan skripsi
Ironisnya, kesalahan ini justru paling sering muncul di tulisan-tulisan yang seharusnya paling teliti: laporan praktikum, skripsi, dan jurnal penelitian mahasiswa. Biasanya ini terjadi karena mahasiswa terbiasa membaca istilah enzim ber-akhiran “-ase” dalam textbook berbahasa Inggris, lalu tanpa sadar menyamaratakan pola itu ke semua istilah teknis lain yang terasa “mirip”.
Contoh kalimat yang sering salah dan perbaikannya
| Kalimat Salah | Kalimat Benar |
|---|---|
| Sampel diproses melalui tahap fraksinase menggunakan pelarut organik. | Sampel diproses melalui tahap fraksinasi menggunakan pelarut organik. |
| Fraksinase minyak sawit menghasilkan dua produk utama. | Fraksinasi minyak sawit menghasilkan dua produk utama. |
| Proses fraksinase darah dilakukan di laboratorium khusus. | Proses fraksinasi darah dilakukan di laboratorium khusus. |
| Hasil fraksinase kemudian dianalisis dengan kromatografi. | Hasil fraksinasi kemudian dianalisis dengan kromatografi. |
Cara Cepat Mengingat Mana yang Benar
Ini tips praktis yang bisa langsung kamu pakai, terutama kalau kamu sering menulis laporan ilmiah atau konten edukasi:
- Tanyakan ke diri sendiri: “Apakah kata ini merujuk pada enzim (zat)?” Kalau jawabannya bukan, jangan pakai “-ase”.
- Ingat jembatan keledai sederhana: “-asi = Aksi (proses/tindakan)”, “-ase = zAt enzim”.
- Kalau kamu ragu dengan kata serapan ilmiah lain yang belum kamu cek, jangan asal tebak — buka dulu kamus bahasa baku supaya laporan atau tulisanmu tetap kredibel di mata dosen, editor, atau pembaca.
- Kalau kamu content writer di bidang sains atau kesehatan, buat daftar istilah teknis yang sering dipakai timmu, lalu validasi sekali di awal supaya konsisten selamanya.
- Baca ulang tulisanmu dengan fokus khusus di kata-kata berakhiran “-asi” dan “-ase” sebelum submit, karena ini termasuk kesalahan yang gampang lolos dari mata sendiri.
Kesalahan menulis “fraksinasi” jadi “fraksinase” mungkin kelihatan teknis dan remeh, tapi buat kamu yang bergelut di dunia akademik, farmasi, atau industri pengolahan, detail semacam ini bisa memengaruhi kredibilitas tulisan ilmiahmu di depan reviewer atau dosen pembimbing.
Kalau artikel ini bikin kamu makin paham bedanya fraksinasi dan fraksinase, simpan halaman ini biar gampang dicek lagi saat nulis laporan berikutnya, dan bagikan ke teman satu lab atau satu jurusan yang mungkin masih sering keliru. Kamu juga bisa jelajahi pembahasan istilah baku lainnya di kakakiky.id supaya tulisan ilmiahmu makin rapi dan dipercaya.
Views: 0



