Frekuensi atau Frekwensi, Mana yang Benar Menurut KBBI?

Frekuensi atau Frekwensi
Frekuensi atau Frekwensi

Coba perhatikan tulisan di laporan kerja, skripsi, atau bahkan spesifikasi radio yang baru kamu beli. Ada dua kemungkinan ejaan yang muncul: “frekuensi” atau “frekwensi”. Keduanya kedengaran sama persis kalau diucapkan, tapi cuma satu yang diakui KBBI. Jawaban singkatnya: frekuensi adalah bentuk baku, sementara frekwensi adalah ejaan lama yang sudah enggak dipakai lagi dalam sistem ejaan resmi bahasa Indonesia. Soal kenapa huruf “kw” bisa salah kaprah sampai sekarang, dan di mana saja kesalahan ini paling sering muncul, yuk kita bahas tuntas.

Frekuensi atau Frekwensi, Ini Jawaban Cepatnya

Kata yang benar dan tercatat di KBBI adalah frekuensi, ditulis dengan huruf “ku”, bukan “kw”. Kata ini punya dua makna utama: pertama, jumlah getaran gelombang per satuan waktu (dipakai dalam fisika, elektronika, dan penyiaran radio), dan kedua, tingkat keseringan suatu peristiwa terjadi dalam periode tertentu.

Jadi kalau kamu menulis “frekwensi radio itu 101.4 FM” atau “frekwensi olahraganya tiga kali seminggu”, keduanya keliru secara ejaan. Yang benar adalah “frekuensi radio” dan “frekuensi olahraga”. Sekilas terlihat sepele, tapi kesalahan ini masih sering lolos bahkan di dokumen resmi instansi pemerintah dan buku pelajaran cetakan lama.

Kenapa Frekuensi yang Baku, Bukan Frekwensi

Jejak kata ini dari bahasa Belanda dan Inggris

Kata “frekuensi” diserap dari bahasa Belanda “frequentie” yang juga berakar dari bahasa Latin “frequentia”, berarti keseringan atau kepadatan. Nah, ejaan “frekwensi” sebenarnya bukan murni kesalahan sembarangan — itu sisa dari sistem ejaan lama sebelum Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) resmi berlaku tahun 1972. Dulu, banyak kata serapan dari bahasa Belanda yang mempertahankan bunyi “kw” karena mengikuti lafal Belanda yang memang menulis huruf “q” dengan kombinasi “kw”.

Setelah EYD disahkan, aturan penyerapan kata asing diseragamkan. Huruf “qu” dalam bahasa asing (baik dari Belanda maupun Inggris) yang berbunyi “ku” akan konsisten ditulis “ku” dalam bahasa Indonesia, bukan “kw”. Makanya “frequentie” jadi “frekuensi”, bukan “frekwensi”.

Pola huruf “qu” yang berubah jadi “ku” dalam kata serapan

Supaya makin jelas, ini daftar kata-kata lain yang mengalami pola perubahan serupa. Kalau kamu hafal pola ini, kamu bisa menebak ejaan baku kata serapan lain tanpa harus buka kamus setiap saat:

Bahasa AsalBentuk Baku IndonesiaBentuk Tidak Baku (Sering Dipakai)
frequentie/frequencyfrekuensifrekwensi
consequentie/consequencekonsekuensikonsekwensi
equivalentekuivalenekwivalen
qualitykualitaskwalitas
quantitykuantitaskwantitas
quotationkuotasikwotasi

Lihat polanya? Semua kata yang di bahasa asalnya mengandung “qu” dengan bunyi “ku”, dalam bahasa Indonesia baku selalu berubah jadi “ku”, bukan “kw”. Ini salah satu insight yang jarang dijelaskan tuntas di sumber lain: kesalahan “kwalitas”, “kwantitas”, dan “frekwensi” itu sebenarnya satu “keluarga kesalahan” yang sama, muncul dari kebiasaan ejaan lama yang terus diwariskan turun-temurun lewat kebiasaan lisan dan tulisan informal, bukan karena orang Indonesia sekarang enggak tahu aturannya.

Contoh Pemakaian Frekuensi yang Benar dalam Kalimat Sehari-hari

Biar makin lengket di kepala, ini banyak contoh pemakaian kata “frekuensi” sesuai konteksnya masing-masing, mulai dari dunia teknis sampai percakapan sehari-hari.

Dalam konteks radio, gelombang, dan elektronik

  • Stasiun radio itu siaran di frekuensi 95.8 FM, bisa kamu dengar di seluruh wilayah Jabodetabek.
  • Teknisi harus menyetel frekuensi walkie-talkie supaya tim di lapangan bisa saling berkomunikasi.
  • Wi-Fi router zaman sekarang biasanya mendukung dua frekuensi, yaitu 2.4 GHz dan 5 GHz.
  • Alat USG bekerja dengan memanfaatkan frekuensi gelombang ultrasonik yang enggak bisa didengar telinga manusia.
  • BMKG memantau frekuensi gempa susulan untuk memperkirakan potensi gempa besar berikutnya.

Dalam konteks kebiasaan dan pengulangan peristiwa

  • Frekuensi hujan di Jakarta meningkat drastis sejak memasuki musim penghujan bulan November.
  • Dokter menyarankan aku mengurangi frekuensi minum kopi supaya enggak gampang asam lambung naik.
  • Frekuensi kecelakaan di jalan tol itu naik tajam setiap libur panjang Lebaran.
  • Perusahaan sedang mengevaluasi frekuensi rapat mingguan karena dianggap terlalu sering dan mengganggu produktivitas tim.
  • Guru BK mencatat frekuensi keterlambatan siswa untuk laporan ke wali kelas setiap bulan.

Dalam konteks kesehatan dan olahraga

  • Frekuensi olahraga yang ideal untuk pemula adalah tiga sampai empat kali seminggu, enggak perlu langsung tujuh hari.
  • Dokter kandungan memantau frekuensi detak jantung janin selama pemeriksaan USG rutin.
  • Frekuensi buang air kecil yang terlalu sering bisa jadi tanda awal diabetes, jadi jangan diabaikan.

Kapan Orang Sering Keliru Menulis Frekwensi

Warisan ejaan lama yang masih nempel sampai sekarang

Ini bagian yang menarik: kesalahan “frekwensi” paling sering muncul justru dari generasi yang belajar bahasa Indonesia sebelum atau tepat di masa transisi EYD, lalu kebiasaan itu diwariskan ke anak-cucu lewat buku pelajaran fotokopi, modul kursus elektronika lama, bahkan manual alat teknik yang dicetak ulang tanpa diperbarui ejaannya. Dari pengalaman menyunting naskah teknis, aku sering menemukan kata “kwalitas sinyal” dan “frekwensi gelombang” berdampingan dalam satu dokumen yang sama — menandakan penulisnya memang terbiasa dengan ejaan lama, bukan sekadar typo random.

Contoh kalimat yang sering salah dan perbaikannya

Kalimat SalahKalimat Benar
Frekwensi radio itu susah ditangkap di daerah pegunungan.Frekuensi radio itu susah ditangkap di daerah pegunungan.
Dokter menyarankan menurunkan frekwensi makan junk food.Dokter menyarankan menurunkan frekuensi makan junk food.
Sinyal Wi-Fi di rumahku pakai frekwensi 5 GHz.Sinyal Wi-Fi di rumahku pakai frekuensi 5 GHz.
Frekwensi gempa di wilayah itu cukup tinggi tahun ini.Frekuensi gempa di wilayah itu cukup tinggi tahun ini.
Perbaiki dulu frekwensi antena sebelum siaran dimulai.Perbaiki dulu frekuensi antena sebelum siaran dimulai.

Bedanya dengan Kata Serapan Lain yang Mirip Kasusnya

Satu hal yang bikin bahasa Indonesia terasa membingungkan adalah karena huruf “q” dari bahasa asing enggak selalu berubah jadi “k”. Supaya kamu enggak gampang ketuker, ini beberapa pola yang perlu kamu ingat:

  • Huruf “qu” berbunyi “ku” → jadi “ku” (frequency → frekuensi, quality → kualitas)
  • Huruf “qu” berbunyi “kw” dalam bahasa aslinya (jarang) → tetap dipertahankan sesuai lafal
  • Kata serapan lama berejaan “kw” dari bahasa Belanda → sebagian besar sudah direvisi jadi “ku” sejak EYD berlaku

Pola-pola kecil seperti ini sebenarnya bisa jadi modal besar buat kamu yang sering menulis untuk kerjaan, apalagi kalau kamu kerja di bidang teknik, broadcasting, atau media yang sering banget berurusan dengan istilah serapan dari bahasa asing. Daripada menebak-nebak dan berisiko salah terus-menerus, langsung cek saja ke kamus bahasa baku supaya kamu enggak perlu hafal semua aturan di luar kepala.

Tips Praktis Supaya Enggak Salah Lagi

Beberapa langkah sederhana yang bisa langsung kamu praktikkan:

  1. Setiap kali kamu nulis kata berawalan bunyi “ku” dari serapan asing, coba cek dulu apakah hurufnya “ku” atau “kw” di KBBI daring sebelum dipublikasikan.
  2. Kalau kamu kerja di bidang teknik atau broadcasting, buat daftar istilah baku internal (frekuensi, kualitas, kuantitas, konsekuensi) supaya seluruh tim konsisten memakainya.
  3. Jangan percaya begitu saja sama dokumen atau modul lama yang dicetak ulang — ejaan di sana mungkin belum diperbarui sesuai EYD terkini.
  4. Gunakan fitur cari-ganti (find and replace) di Word atau Google Docs untuk mengecek dan membetulkan kesalahan “frekwensi” secara massal dalam satu dokumen panjang.

Kesalahan menulis “frekuensi” jadi “frekwensi” memang kelihatan kecil, tapi buat kamu yang kerja di bidang teknik, broadcasting, kesehatan, atau jurnalistik, detail seperti ini bisa jadi penentu seberapa profesional tulisanmu terlihat di mata pembaca atau atasan yang teliti.

Kalau artikel ini membantu kamu membedakan frekuensi dan frekwensi, jangan lupa simpan halaman ini biar gampang dicek lagi kapan pun kamu butuh, dan bagikan ke rekan kerja atau teman kuliahmu yang masih sering salah ketik. Jangan lupa juga jelajahi pembahasan kata baku lainnya di kakakiky.id supaya tulisanmu makin rapi dan dipercaya pembaca.

Views: 1

M. Rizki Riswandi

Seorang digital marketer dan juga blogger dengan pengalaman menulis lebih dari 11 tahun, menyukai dunia marketing dan teknologi.