Alarm atau Alaram, Mana Ejaan yang Benar?

KakaKiky – Coba ingat-ingat, terakhir kali kamu ngobrol sama teman atau keluarga, kamu bilang “alarm HP-ku enggak bunyi” atau malah “alaram HP-ku enggak bunyi”? Banyak orang Indonesia, terutama di percakapan sehari-hari, sebenarnya lebih sering ngomong “alaram” tanpa sadar itu keliru. Jawaban singkatnya: alarm adalah bentuk baku sesuai KBBI, sedangkan alaram adalah pengucapan dan penulisan yang tidak baku. Tapi kenapa banyak orang justru terbiasa dengan versi yang salah? Ini yang menarik untuk dibongkar.
Alarm atau Alaram, Ini Penjelasan Cepatnya
KBBI daring hanya mencatat “alarm” sebagai entri resmi, dengan makna alat atau tanda untuk memberi peringatan, baik berupa bunyi, cahaya, maupun sinyal lainnya. Kata “alaram” sama sekali tidak muncul di KBBI, jadi statusnya jelas tidak baku, bukan sekadar variasi ejaan yang “boleh-boleh saja”.
Menariknya, kesalahan ini bukan soal typo atau salah ketik biasa. Ini murni soal kebiasaan lisan yang kemudian terbawa ke tulisan. Dan itu jauh lebih sulit dihilangkan dibanding typo biasa, karena otak kita sudah “mendengar” kata itu ribuan kali dengan pelafalan yang salah sejak kecil.
Kenapa Banyak Orang Indonesia Bilang “Alaram”, Bukan “Alarm”
Fenomena penyisipan bunyi vokal (epentesis) dalam bahasa Indonesia
Ini bagian yang jarang dijelaskan tuntas di artikel lain. Dalam ilmu bahasa, ada fenomena yang disebut epentesis, yaitu penyisipan bunyi tambahan (biasanya vokal) di tengah kata untuk memudahkan pengucapan. Bahasa Indonesia, terutama dalam ragam lisan sehari-hari, punya kecenderungan kuat menyisipkan vokal di antara gugus konsonan yang dianggap “berat” diucapkan.
Kata “alarm” punya gugus konsonan “rm” di akhir kata, yang bagi lidah orang Indonesia — apalagi yang terbiasa dengan pola suku kata konsonan-vokal seperti dalam bahasa daerah Nusantara — terasa janggal diucapkan tanpa jeda. Makanya muncul sisipan vokal “a” jadi “a-la-ram”.
Fenomena yang sama juga terjadi pada kata-kata lain. Coba perhatikan tabel berikut, aku kumpulkan dari pengalaman menyunting berbagai naskah dan mengamati percakapan sehari-hari di Indonesia:
| Kata Baku | Pelafalan/Tulisan Tidak Baku yang Sering Muncul | Pola Epentesis |
|---|---|---|
| alarm | alaram | penyisipan “a” di antara “r” dan “m” |
| film | filem | penyisipan “e” di antara “l” dan “m” |
| Maret | maret (kadang jadi “maret” dieja “ma-ret” wajar, tapi diucap “ma-ret” ganda) | – |
| traktor | tarektor | penyisipan “e” setelah “t” |
| stres | setres | penyisipan “e” di awal gugus konsonan |
| kompleks | komplek(s) / kompelek | penyisipan bunyi tambahan |
| helm | helem | penyisipan “e” di antara “l” dan “m” |
Perhatikan pola “filem” dan “helem” — mirip banget sama kasus “alaram”, kan? Semuanya berakhiran gugus konsonan yang “dipecah” dengan vokal tambahan supaya lebih nyaman diucapkan lidah orang Indonesia. Insight ini penting, karena begitu kamu paham polanya, kamu bisa mengenali sendiri kata-kata lain yang berpotensi salah eja karena kebiasaan lisan, bukan cuma menghafal satu per satu.
Pengaruh dialek daerah dan bahasa ibu
Di beberapa daerah, terutama yang bahasa ibunya punya struktur suku kata terbuka (konsonan-vokal-konsonan-vokal, seperti banyak bahasa daerah di Indonesia), pengucapan “alaram” terasa jauh lebih natural dibanding “alarm” yang diakhiri dua konsonan berurutan. Ini bukan soal salah paham bahasa Indonesia, tapi soal pengaruh struktur fonologi bahasa daerah yang terbawa ke bahasa Indonesia sehari-hari.
Contoh Pemakaian “Alarm” yang Benar dalam Berbagai Konteks
Biar makin nempel di ingatan, ini beberapa contoh kalimat dengan kata “alarm” dalam konteks yang sering kamu temui sehari-hari.
Dalam konteks alat elektronik dan gadget
- Alarm HP-ku bunyi jam 5 pagi, tapi aku malah matiin dan tidur lagi.
- Coba cek pengaturan alarm di jam tanganmu, sepertinya belum aktif.
- Alarm mobil itu berbunyi terus karena sensor gerak yang terlalu sensitif.
- Aplikasi alarm bawaan Android sekarang bisa disetel dengan label khusus untuk tiap jadwal.
Dalam konteks keamanan rumah dan bangunan
- Sistem alarm kebakaran di gedung itu langsung aktif begitu terdeteksi asap.
- Kami baru pasang alarm rumah setelah kejadian pencurian di kompleks sebelah.
- Alarm keamanan di kantor sengaja diset supaya berbunyi kalau ada gerakan di malam hari.
- Petugas satpam langsung merespons begitu alarm gudang berbunyi tengah malam.
Dalam konteks kiasan atau peringatan non-fisik
- Kenaikan harga bahan pokok ini seharusnya jadi alarm bagi pemerintah untuk segera bertindak.
- Banyak psikolog bilang, kelelahan kerja yang terus-menerus itu alarm dari tubuh supaya kamu istirahat.
- Data BPS soal pengangguran ini semestinya jadi alarm keras buat dunia pendidikan vokasi.
Perhatikan, di konteks kiasan seperti tiga contoh terakhir, kata “alarm” tetap dipakai apa adanya tanpa perubahan bentuk, karena memang sudah lazim dipakai secara metaforis dalam bahasa Indonesia jurnalistik dan akademik.
Kapan Kesalahan “Alaram” Paling Sering Muncul
Dalam percakapan lisan sehari-hari
Ini area paling rawan. Coba dengar percakapan di angkringan, warung kopi, atau grup keluarga di WhatsApp voice note — kata “alaram” jauh lebih sering terdengar dibanding “alarm” yang diucapkan dengan konsonan rangkap yang jelas. Karena sifatnya lisan, kesalahan ini jarang disadari sampai akhirnya terbawa ke tulisan formal, misalnya di laporan kerja atau caption media sosial brand.
Dalam tulisan informal di media sosial
- “Alaram gua ga bunyi tadi pagi jadi telat masuk kantor” — sering banget muncul di caption Twitter/X atau story Instagram.
- Beberapa toko online bahkan menulis produk “jam alaram” di deskripsi marketplace, padahal ini bisa memengaruhi kredibilitas toko di mata pembeli yang teliti soal ejaan.
Dalam dunia kerja dan penulisan formal
Kesalahan ini juga kadang lolos di dokumen internal perusahaan, SOP keamanan gedung, atau bahkan artikel berita daring yang terburu-buru. Padahal, untuk konten formal seperti press release, SOP, atau artikel edukasi, ejaan yang salah bisa menurunkan kepercayaan pembaca terhadap kredibilitas penulis atau institusi yang menerbitkannya.
Cara Praktis Menghindari Kesalahan Ini
Beberapa trik sederhana yang bisa langsung kamu terapkan:
- Latih pengucapan “alarm” dengan menahan bunyi “r” dan “m” langsung tanpa jeda vokal — coba ucapkan pelan-pelan beberapa kali sampai terbiasa.
- Kalau kamu content writer, admin sosmed, atau penulis SOP kantor, buat catatan kata-kata yang sering salah eja karena epentesis (alarm, film, helm, stres) supaya tim konsisten.
- Manfaatkan fitur autocorrect di HP atau laptop, tapi tetap validasi manual, karena tidak semua autocorrect mendeteksi kesalahan seperti ini.
- Kalau ragu dengan kata serapan lain yang mirip kasusnya, langsung cek ke kamus bahasa baku supaya enggak salah lagi.
Kesalahan “alaram” ini memang terdengar sepele, tapi justru karena sifatnya yang muncul dari kebiasaan lisan, ia jauh lebih sulit dihilangkan dibanding typo biasa. Semakin sering kamu sadar dan koreksi, semakin cepat pula kebiasaan menulis yang benar itu melekat.
Kalau artikel ini bikin kamu langsung sadar selama ini salah eja, jangan buru-buru tutup tab ini — simpan dulu halamannya, siapa tahu suatu saat kamu perlu cek lagi. Share juga ke teman atau rekan kerja yang masih suka nulis “alaram” di grup WhatsApp kantor, dan jelajahi lebih banyak pembahasan kata baku lainnya di kakakiky.id biar tulisanmu makin rapi dan dipercaya pembaca.



