Frasa Atau Frase, Mana Penulisan Yang Benar?

mana penulisan kata yang benar frasa atau frase
Frasa atau Frase?

KakaKiky – Coba ingat-ingat lagi pelajaran bahasa Indonesia waktu sekolah dulu. Guru bilang “frasa” atau “frase” ya? Kalau kamu ragu, kamu enggak sendirian — ini salah satu kata yang paling sering bikin orang Indonesia bimbang, bahkan mereka yang kerja di bidang bahasa sekalipun. Jawaban cepatnya: frasa adalah bentuk baku menurut KBBI, sedangkan frase adalah bentuk tidak baku yang sebenarnya ejaan lama sebelum disesuaikan. Tapi kenapa bisa begitu, dan kenapa “frase” masih dipakai luas sampai sekarang? Ini yang bakal kita bongkar.

Frasa atau Frase, Jawaban Singkatnya

Kalau kamu buka KBBI daring sekarang juga, kamu cuma akan menemukan entri “frasa”, bukan “frase”. Frasa didefinisikan sebagai gabungan dua kata atau lebih yang bersifat nonpredikatif, alias enggak punya struktur subjek-predikat lengkap seperti kalimat. Contoh sederhananya: “rumah besar”, “sangat cantik”, atau “di depan sekolah” — semua itu frasa, bukan kalimat utuh.

Yang menarik, “frase” bukan kata yang salah total secara historis. Justru “frase” adalah ejaan yang lebih dulu dipakai, mengikuti pelafalan bahasa Belanda “frase”. Tapi setelah proses pembakuan bahasa Indonesia terus berjalan, terutama sejak EYD (Ejaan yang Disempurnakan) hingga PUEBI sekarang, bentuk yang disahkan berubah jadi “frasa”, mengikuti pola serapan dari bahasa Inggris “phrase” yang disesuaikan dengan sistem fonologi Indonesia.

Kenapa Frasa yang Dianggap Baku, Bukan Frase

Asal kata ini dari dua bahasa asing sekaligus

Ini bagian yang jarang dijelaskan tuntas di buku pelajaran: kata “frasa/frase” sebenarnya punya jejak ganda. Secara historis, kata ini pertama masuk ke bahasa Indonesia lewat pengaruh bahasa Belanda “frase” (dibaca “fra-se”), karena Indonesia pernah dijajah Belanda cukup lama dan banyak istilah akademik, termasuk istilah linguistik, diserap dari sana. Tapi seiring waktu, pengaruh bahasa Inggris makin dominan dalam dunia akademik dan pendidikan tinggi, terutama di bidang linguistik modern, sehingga penyesuaian ejaan kemudian condong ke pola serapan dari kata Inggris “phrase”.

Nah, di titik inilah Pusat Bahasa (sekarang Badan Bahasa) menetapkan “frasa” sebagai bentuk final yang dibakukan, meninggalkan “frase” sebagai bentuk lama yang sudah enggak dipakai lagi secara resmi, meskipun kata itu masih sangat lekat di ingatan banyak generasi yang belajar bahasa Indonesia sebelum tahun 1970-an.

Pola perubahan akhiran “-se” jadi “-sa”

Kalau kamu perhatikan, ada pola serapan lain yang mirip dengan kasus frasa ini, yaitu perubahan akhiran kata serapan dari huruf “e” menjadi huruf “a”. Berikut beberapa contohnya:

Ejaan Lama / Serapan BelandaBentuk Baku Sekarang
frasefrasa
analisa (dari analyse)analisis (catatan: ini kasus khusus, tetap “analisis”)
kliseklise (tetap sama, tidak berubah)
sistimsistem
effektipefektif

Perlu dicatat, pola perubahan akhiran huruf enggak selalu konsisten di semua kata — makanya penting banget buat kamu selalu cek langsung ke sumber resmi kalau ragu, bukan cuma menebak berdasarkan pola. Kamu bisa cek berbagai kata serapan lainnya di kamus bahasa baku biar enggak salah kaprah.

Contoh Pemakaian Frasa dalam Kalimat Sehari-hari

Biar kata “frasa” makin nempel di ingatanmu, ini beberapa contoh pemakaian dalam berbagai konteks yang mungkin kamu temui sehari-hari.

Dalam pelajaran bahasa Indonesia di sekolah

  • “Rumah besar itu” adalah contoh frasa nomina karena unsur intinya kata benda.
  • Guru meminta murid mengidentifikasi frasa dan klausa dalam paragraf tersebut.
  • Soal UN dulu sering menanyakan jenis-jenis frasa, seperti frasa verba dan frasa adjektiva.
  • Dalam ujian sekolah, siswa diminta membedakan frasa dengan kata majemuk.
  • Buku tata bahasa baku Indonesia menjelaskan frasa sebagai satuan gramatikal di bawah klausa.

Dalam dunia jurnalistik dan copywriting

  • Editor media itu selalu mengingatkan reporter junior soal penggunaan frasa yang ambigu dalam judul berita.
  • Copywriter perlu jeli memilih frasa yang catchy tapi tetap sesuai kaidah bahasa Indonesia.
  • Redaksi menolak draf artikel karena banyak frasa yang bertele-tele dan enggak efektif.
  • Dalam pelatihan menulis, aku selalu bilang: frasa pendek yang tajam lebih kuat daripada kalimat panjang yang muter-muter.

Dalam percakapan dan tulisan sehari-hari

  • “Sangat menyenangkan” itu frasa adjektiva yang sering kamu pakai tanpa sadar.
  • Di caption Instagram, banyak orang pakai frasa “self reward” padahal bisa diganti istilah Indonesia.
  • Frasa “healing dulu ah” sekarang jadi bagian dari bahasa gaul anak muda Indonesia.
  • Dosen bahasa itu bilang, mahasiswa sering salah membedakan frasa dengan idiom dalam tugas linguistik.

Kapan Orang Sering Keliru Menulis Frase

Pengaruh buku-buku lama dan kebiasaan generasi sebelumnya

Ini insight yang menarik dari pengalamanku menyunting naskah dari berbagai generasi penulis: orang yang belajar bahasa Indonesia sebelum era digital, terutama yang terbiasa baca buku cetakan lama tahun 80–90an, cenderung masih otomatis menulis “frase” karena itulah yang mereka pelajari waktu sekolah dulu. Sementara itu, generasi yang belajar dari sumber daring modern seperti KBBI versi web justru lebih sering menemukan bentuk “frasa” sejak awal.

Fenomena ini bikin kesalahan “frase” jadi salah satu yang paling “diwariskan” secara enggak sadar dari guru ke murid, dari senior ke junior di kantor redaksi, bahkan dari dosen ke mahasiswa. Padahal, kalau dicek sumber terbaru, jawabannya sudah jelas.

Contoh kalimat yang sering salah dan perbaikannya

Kalimat SalahKalimat Benar
Kalimat itu terdiri dari beberapa frase penting.Kalimat itu terdiri dari beberapa frasa penting.
Dia menggunakan frase yang ambigu dalam pidatonya.Dia menggunakan frasa yang ambigu dalam pidatonya.
Guru menjelaskan perbedaan frase dan klausa.Guru menjelaskan perbedaan frasa dan klausa.
Buku itu membahas jenis-jenis frase dalam bahasa Indonesia.Buku itu membahas jenis-jenis frasa dalam bahasa Indonesia.
Aku suka frase “hidup itu perjalanan singkat”.Aku suka frasa “hidup itu perjalanan singkat”.

Beda Frasa dengan Istilah Linguistik Lain yang Sering Ketuker

Selain soal ejaan, banyak orang juga bingung membedakan frasa dengan istilah linguistik lain yang bunyinya mirip-mirip atau fungsinya kelihatan serupa. Ini rangkuman perbandingannya biar makin jelas:

IstilahDefinisi SingkatContoh
FrasaGabungan kata tanpa struktur subjek-predikat lengkap“buku tebal itu”
KlausaGabungan kata yang sudah punya subjek dan predikat, tapi belum jadi kalimat utuh“ketika hujan turun”
KalimatSatuan gramatikal lengkap dengan subjek, predikat, dan bisa berdiri sendiri“Buku tebal itu jatuh dari rak.”
IdiomGabungan kata dengan makna kiasan yang enggak bisa ditebak dari kata pembentuknya“buah tangan” (oleh-oleh)

Perbandingan ini penting banget dipahami, terutama buat kamu yang kerja sebagai guru, editor, atau content writer, karena kesalahan mengidentifikasi frasa vs klausa bisa berujung pada kesalahan tata bahasa yang lebih besar dalam tulisanmu.

Tips Praktis Supaya Enggak Salah Lagi

Beberapa langkah sederhana yang bisa langsung kamu terapkan:

  1. Ganti kebiasaan lama kalau kamu masih otomatis menulis “frase” — latih tanganmu untuk menulis “frasa” sampai jadi refleks baru.
  2. Cek ulang naskah lama atau template tulisan yang sering kamu pakai berulang, siapa tahu masih ada “frase” yang nyelip dari kebiasaan lama.
  3. Kalau kamu jadi editor atau content lead di tim, buat catatan gaya bahasa (style guide) internal supaya seluruh tim konsisten.
  4. Selalu validasi ke KBBI daring resmi, jangan cuma mengandalkan ingatan pelajaran sekolah yang mungkin sudah ketinggalan aturan terbaru.

Perbedaan frasa dan frase memang kelihatan kecil, tapi buat kamu yang berkecimpung di dunia tulis-menulis, jurnalistik, atau pendidikan, konsistensi memakai bentuk baku ini menunjukkan seberapa serius kamu menjaga kualitas tulisanmu di mata pembaca.

Kalau artikel ini bikin kamu makin yakin soal frasa dan frase, simpan halaman ini biar gampang dicek lagi kapan pun kamu ragu, dan bagikan ke teman atau rekan kerjamu yang masih suka salah tulis. Kamu juga bisa jelajahi pembahasan kata baku lainnya di kakakiky.id supaya tulisanmu makin rapi dan dipercaya pembaca.

Views: 0

M. Rizki Riswandi

Seorang digital marketer dan juga blogger dengan pengalaman menulis lebih dari 11 tahun, menyukai dunia marketing dan teknologi.