Kenali Perbedaan Cedera Kepala dan Cedera Otak Traumatik

Perbedaan Cedera Kepala dan Cedera Otak Traumatik
Perbedaan cedera kepala dan cedera otak traumatik

KakaKiky – Pernahkah Anda mengalami benturan, pukulan, atau guncangan keras di kepala? Hal ini biasanya berakibat pada kondisi yang dinamakan cedera kepala. Cedera kepala, atau head injury, sering kali dianggap sebagai masalah sepele oleh sebagian orang. Namun, dampaknya bisa sangat serius, terlebih pada kondisi otak. Bahkan dalam situasi tertentu, cedera otak bisa berlanjut menjadi cedera otak traumatik, yang dalam dunia medis disebut juga dengan trauma otak atau TBI (Traumatic Brain Injury). Secara sederhana, cedera otak traumatik bisa dimengerti sebagai kondisi di mana terjadi gangguan pada kinerja otak Anda yang dapat dipicu oleh faktor eksternal dari kepala.

Cedera Kepala (Head Injury)

Trauma Otak (Traumatic Brain Injury)

Klasifikasi

  • Cedera Otak Ringan (COR): GCS 14-15.
  • Cedera Otak Sedang (COS): GCS 9-13.
  • Cedera Otak Berat (COB): GCS 3-8.

Jenis

  • Hematoma: penumpukan darah secara tidak wajar di dalam pembuluh darah otak yang disebabkan oleh benturan atau pukulan keras.
  • Perdarahan kepala: pendarahan yang terjadi secara tidak terkendali di area sekitar otak (perdarahan subarachnoid) atau di dalam jaringan otak (perdarahan intracerebral).
  • Gegar otak (concussion): otak mengalami cedera atau gangguan fungsi saat terkena benturan atau pukulan yang keras.
  • Edema: cedera kepala terkadang bisa menyebabkan edema atau pembengkakan pada bagian atau jaringan tertentu dari tulang tengkorak karena banyak cairan di dalamnya. 
  • Fraktur tengkorak: adalah kondisi patahnya salah satu atau lebih tulang dari delapan tulang yang membentuk bagian tengkorak, biasanya terjadi akibat sentakan benda tumpul atau tusukan benda tajam.
  • Cedera aksonal difus (diffuse axonal injury): robeknya serabut saraf penghubung otak (akson) yang terjadi saat otak bergeser atau berputar di dalam tulang tengkorak.
  • Terbuka: terjadi ketika ada sesuatu, seperti pisau, pecahan kaca, kayu, atau peluru, yang menembus tulang tengkorak, masuk ke otak, dan merusak bagian otak. Dokter sering menyebut kondisi ini sebagai cedera otak traumatis terbuka. 
  • Tertutup: terjadi ketika ada sesuatu yang menghantam kepala Anda dengan cukup keras sehingga mengakibatkan otak berguncang di dalam tengkorak, tetapi tidak sampai menembus ke dalamnya. Kondisi ini sering disebut cedera otak traumatis tumpul. 

Gejala

  • Pusing dan nyeri hebat di kepala
  • Mual dan muntah
  • Hilang kesadaran
  • Gangguan penglihatan dan pendengaran
  • Tubuh lemas
  • Kebingungan
  • Perubahan perilaku secara drastis
  • Susah tidur
  • Sulit berkonsentrasi
  • Hilang ingatan

Diagnosis dan Pengobatan

  • Tes neurologis: serangkaian tes yang dilakukan untuk mengevaluasi fungsi sistem saraf pusat, terutama pada bagian otak, setelah terjadi trauma atau cedera kepala.
  • Tes pencitraan: CT scan atau MRI scan bisa menjadi pilihan dokter untuk mendapatkan gambaran kondisi tulang tengkorak dan otak pasien cedera kepala.
  • Penilaian kognitif: tes diagnostik ini dipakai untuk mengevaluasi kemampuan ingatan, berpikir, dan bernalar dari pasien.
  • Obat medis: obat-obatan seperti antidepresan, obat anti kejang, diuretik, atau obat penenang bisa menjadi pilihan untuk mengatasi kondisi pasien. 
  • Terapi: dokter mungkin juga akan meminta pasien untuk menjalani fisioterapi, terapi wicara, terapi kognitif, atau terapi okupasi tergantung hasil diagnosisnya. 
  • Operasi: jika hasil evaluasi menunjukkan tingkat keparahan yang serius, dokter spesialis bedah saraf bisa memilih tindakan operasi untuk menghentikan pendarahan berat, mengangkat gumpalan darah, atau memperbaiki tulang tengkorak yang retak. 
M. Rizki Riswandi

Seorang digital marketer dan juga blogger dengan pengalaman menulis lebih dari 11 tahun, menyukai dunia marketing dan teknologi.